7 Langkah Menuju Bandung Makmur 2008-2013

1. Jalan dan Transportasi

Pemerintah kota Bandung telah mampu meningkatkan aksesibilitas jalan kota dalam rangka menunjang aktivitas warga yang ditandai dengan selesainya pembangunan jalan layang dan jembatan pasupati, fly over kiaracondong, pelebaran jalan Soekarno-Hatta, simpang akses Kopo, akses Buah Batu, Surapati, Ujungberung serta pembangunan jalan tembus Holis langsung ke jalan tol Pasirkoja.

2. Penerangan Jalan Umum

Penerangan jalan umum sudah banyak mengalami perubahan dari 14.923 titik ditahun 2003 menjadi 18.870 titik pada tahun 2007, dan akan terus menjadi perhatian kami mengingat penerangan jalan umum pun berkaitan dengan faktor keamanan di jalan.

3. Penataan PKL

Penataan PKL dilakukan secara lebih menusiawi yakni dengan secara bertahap ditempatkan pada lokasi-lokasi yang sudah disediakan, diantaranya tegallega, gedebage, dan tempat-tempat atau toko yang kosong.

4. Pasar Tradisional

Penataan pasar tradisional ini ditujukan untuk meningkatkan harkat, derajat, dan martabat para pedagang melalui perlindungan para pedagang pasar tradisional, usaha kecil dan menengah, dengan mewujudkan sinergi saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan antara pedagang pasar tradisional dengan pedagang pasar modern.

5. Pengangguran

Salah satu upaya penting dalam mengatasi pengangguran telah diupayakan melalui bursa tenaga kerja dan dengan Bawaku Makmur.

6. Pemangunan SOR

Pemerintah akan membangun dan memelihara lebih banyak Sarana Olahraga lagi yang berstandar internasional di berbagai kawasan sebagai bagian penting dari upaya pengembangan kualitas SDM Kota Bandung di bidang olahraga, sosial, dan ekonomi masyarakat.

7. Pemberantasan Korupsi

Pemerintah Kota Bandung akan lebih giat dalam pemberantasan korupsi, sehingga Kota Bandung bebas korupsi dan menjadikan korupsi sebagai musuh bersama, yang sudah disepakati melalui penandatangan pakta integritas pada tanggal 24 Maret 2008.

Tugas dan Target Baru Kang Dada

Kota Bandung kasohor (dikenal, Red) sebagai kota sepakbola. Tidak berlebihan, pasalnya Kota Kembang ini terbukti melahirkan pesepakbola-pesepakbola andal yang namanya melintas batas kota, batas provinsi, dan bahkan batas negara alias go international. Sekedar contoh, sebut saja “Si Bima” Robby Darwis.
Bandung tentu saja tidak hanya melahirkan Robby Darwis. Pendek kata, Bandung tidak berhenti melahirkan pesepakbolapesepakbola tangguh yang kemudian menasional dam mendunia bersama Timnas. Pada titik ini, tentu kita sangat pantas bila menyodorkan nama Zaenal Arief dan Eka “Ebol” Ramdani.
Mempertahankan peran Bandung sebagai kota yang sepakbola, kalau tidak disebut kiblat sepakbola nasional, menjadi tugas sekaligus target baru H Dada Rosada yang terpilih jadi Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Bandung.
Bertempat di Pendopo Kota Bandung, pertengahan bulan ini, Dada dan rengrengan-nya dilantik sebagai pengurus Pengcab PSSI Kota Bandung. Nah, pada kesempatan itulah Dada memancang targetnya untuk mempertahankan prestasi Bandung sebagai “pabrik” pesepakbola andal.
Sepakbola jelas bukan hal baru bagi Dada. Kita tahu, Dada saat ini masih menjabat Ketua Umum Persib. Dan Persib tentu, tidak akan lepas dari perhatian Kang Dada. Di Pendopo, ketika dilantik, Dada misalnya mengatakan, dengan atau tanpa Pengcab, Persib harus berprestasi.
Namun untuk menjadikan Persib jadi tim kampiun di Liga Super, Dada menegaskan dirinya tidak bisa bekerja sendiri. Kata kuncinya, kata Dada, untuk mencapai target besar tersebut hanya bisa dicapai lewat bekerja secara tim dan profesional. Setuju Kang! Dan selamat bekerja!

Yang Pertama
H. Dada Rosada akan menjabat Ketua Pengcab PSSI Bandung hingga 2012 mendatang. Asal tahu saja, Kang Dada menjadi orang pertama yang menjabat Ketua Pengcab PSSI Bandung. Pasalnya tahun-tahun sebelumnya, tidak ada itu yang namanya Pengcab Kota Bandung. Yang ada hanya Pengda PSSI Jawa Barat.
Selama empat tahun, Dada akan bergelut di dunia sepakbola. Selama empat tahun itu, Dada dibantu pengurus Pengcab PSSI Kota Bandung lainnya, punya tugas yang tidak ringan, yaitu mengambalikan nama besar Kota Kembang sebagai kota sepakbola.
Jelas ini bukan pekerjaan ringan. Buktinya ketika Pengcab Kota Bandung terbentuk, Jabar misalnya gagal meloloskan tim sepakbola ke PON tahun ini yang sedang berlangsung di Kalimantan Timur. Mudah-mudahan Pengcab PSSI Bandung menjadi energi tersendiri bagi Pengda PSSI Jabar yang ingin menjadikan Jabar sebagai provinsi sepakbola di tanah air.

Gagasan dan Pemikiran Dada-Ayi dalam Bandung Kota Berprestasi 2008

Persib, salah satu concern Kang Dada

Persib, salah satu concern Kang Dada

Bicara Olahraga = Bicara Kang Dada
Sebagai Ketua Umum Persib, kita bisa melihat peran besar seorang Dada Rosada dalam membesarkan tim kesayangan Bandung ini. Mulai dari sokongan dana, pengelolaan klub yang intens, pembinaan atlet dan ketelatenannya menjaga kesatuan pemainnya. Sampai-sampai Kang Dada mendapat penghargaan Suratin dari PSSI yang menjadikannya tokoh utama sepak bola 2007. Segala pikirannya tercurah pada tim sepak bola ini. Benarkah begitu?

Sepertinya kepedulian Kang Dada tidak hanya melulu soal bola, tapi juga cabang olahraga yang lain. Buktinya, Kang Dada telah mengembangkan 11 sarana olahraga di Kota Bandung. Ketersediaan sarana dan pembinaan atlet yang berkesinambungan pun berbuah hasil manis, juara umum PORDA Jabar 2006. Program bapak asuh bagi atlet berpresatasi juga menjadi salah satu bukti konkrit program Bandung Kota Berprestasi 2008. Kang Dada memberikan banyak bukti konkrit, bukan janji.

Sekarang ini memang Persib telah berkembang menjadi trademark Kota Bandung yang dielu-elukan warganya. Kalah menangnya Persib dalam pertarungan antar klub sepak bola dalam negeri menjadi parameter harga diri kota. Kemajuan daerah pun kini secara tidak langsung dinilai pula dari kemajuan tim sepak bolanya.

Persib membutuhkan pengelolaan klub yang responsif dan aspiratif. Kinerja pengelola klub juga membutuhkan dukungan dari birokrat, pemain dan masyarakat. Pengelolaan dana pun kini bergerak pada prinsip kewirausahaan, artinya Persib mencari dana mandiri dan tidak tergantung pada APBD.

Berikutnya, pembinaan yang berkesinambungan menjadi kunci penting dalam pembentukan atlet berkualitas tinggi. Kompetisi-kompetisi internal lebih banyak diadakan untuk mengasah kemampuan bertanding pemain. Regenerasi pemain pun menjadi perhatian utama. Tim junior Persib memperoleh pembinaan yang proporsional dan intens untuk menumbuhkan bibit-bibit unggul pemain bola Persib. Ke depannya, pembangunan stadion skala internasional dan pusat diklat (pendidikan dan pelatihan) sepakbola untuk siswa akan direalisasikan.

Waow, pusat diklat sepak bola? Keren..keren nih. Emang Kang Dada yang paling tahu soal Persib..
Kang Dada untuk Persib

“Secara historis, Persib dibangun untuk memupuk rasa persaudaraan dan kesatuan terutama di kalangan penggemar sepak bola, membangun watak manusia yang disiplin serta sportif” Dada Rosada

“Persib adalah aset Kota Bandung, jadi butuh dukungan masyarakat juga untuk bisa mandiri dan berprestasi” Dada Rosada

Menuju SEA Games 2011, SOR Gedebage Dibangun

Pembangunan SOR Gedebage sebagai stadion utama Kota Bandung bukanlah sekedar ambisi semata. Stadion ini disiapkan menjadi stadion berskala internasional untuk penyelenggaraan SEA Games 2011 nanti. Sebagai tuan rumah, Indonesia tidak memiliki fasilitas stadion skala internasional yang memadai. Padahal, kelayakan stadion merupakan syarat utama gelaran olahraga internasional. Jadi kita bisa mengatakan bahwa SOR Gedebage menjawab kebutuhan stadion di Indonesia.

Selain itu, Bandung sebagai ibukota propinsi Jawa Barat sendiri tidak memiliki stadion yang layak untuk digunakan. Hal ini sangat disayangkan, mengingat prestasi gemilang yang diraih Persib belakangan ini. Tanpa dukungan infrastruktur yang berkualitas, bukan tidak mungkin prestasi Persib akan menyurut.

Untuk itulah, Kang Dada mengajukan usul pembangunan SOR Gedebage. Stadion baru ini digadang-gadang sebagai stadion terpadu yang menyatukan asrama, trek atletik, sasana olahraga lain dan fasilitas umum. Stadion besar dengan luas 25.000 meter persegi ini memiliki kapasitas 60.000 tempat duduk. Stadion yang rencananya akan diberi nama West Java Stadium  diperkirakan akan menghabiskan biaya pembangunan sekitar 350 miliar rupiah. Pemkot Bandung hanya akan menggelontorkan biaya sebesar 140 miliar karena sisanya akan ditanggung oleh Pemprov Jabar. Pembangunan SOR Gedebage ini merupakan keinginan warga kota Bandung, sekaligus jawaban bagi bobotoh.

Menuju Bandung Kota Berprestasi 2008..

ita pasti menyadari bahwa problem utama yang mendera lesunya kegiatan olahraga di tanah air ini ialah minimnya fasilitas yang layak dan pendanaan yang mandheg. Untuk itulah, Kang Dada berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas dan kualitas sarana prasarana olahraga di Kota Bandung. Selain memberikan dukungan penuh bagi klub sepakbola kebanggaan Persib, Kang Dada juga mendorong klub-klub olahraga lain untuk meningkatkan prestasinya sehingga dapat meraih gelar juara umum dalam Porda (2006). Beliau pun membangun sistem pendanaan yang komprehensif dan berkesinambungan untuk menyokong kebutuhan klub-klub olahraga di Kota Bandung.

Terlepas dari dua hal di atas, sistem pembinaan atlet menjadi faktor yang tak kalah pentingnya. Atlet yang  dibina dan dilatih dengan displin dan pendidikan mental yang baik dapat menghasilkan atlet-atlet  berprestasi. Untuk itulah Kang Dada menerapkan program pengembangan atlet berbakat sejak dini dan peningkatan jumlah orang tua asuh bagi atlet berprestasi dalam Bandung Kota Berprestasi 2008. Ini merupakan sebuah terobosan Kang Dada untuk menumbuhkan atmosfer olahraga untuk masyarakat di kota kita tercinta.

Lima (dari banyak ) Prestasi Olahraga Kang Dada 2003-2008:
-Penghargaan Kejurnas Sepakbola Taruna Remaja Piala Surati dari PSSI (2006-2007)
-Juara Umum PORDA Jabar Tahun 2006
-Penghargaan dalam Rangka Keberhasilan Membina dan Berkontribusi Atlet Terbanyak pada Kontingen PON Jabar dari KONI Jabar 2006
-Piagam dan Plakat Internasional sebagai Sponsor Kejuaraan Tenis Junior Internasional Piala Panglima Kodam III Siliwangi 2006
-Piagam Penghargaan Suratin Utama sebagai Tokoh Sepakbola tingkat Utama dari PSSI 2007

Sampah, Bandung, dan PLTSa

Sejak terjadi longsor sampah di TPA Leuwigajah februari 2005, kota Bandung dan kawasan Bandung secara keseluruhan mengalami kesulitan mencari lokasi TPA. Namun bukan berarti tidak ada upaya untuk menyelesaikannya. Saat ini, pemkot Bandung terus berupaya mensosialisasikan rencana pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Kota Bandung dengan teknologi Waste to Energy (WTE) kepada masyarakat. Konsep PLTSa didefinisikan sebagai “pemusnah sampah” (incinerator) modern yang dilengkapi peralatan kendali pembakaran serta sistem monitor emisi gas buang yang kontinu dan dapat menghasilkan energi listrik. Cara ini adalah sebuah win win solution karena sekaligus bisa menjawab permasalahan pemadaman PLN secara bergantian yang disebabkan oleh mahalnya energi. Tim riset dari ITB menjelaskan mengenai skema operasi PLTSa tersebut dan menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan bocornya racun dioksin yang merupakan hasil samping pembakaran yang tidak sempurna, ke lingkungan sekitar PLTSa. Tim riset mengaku telah berbicara kepada investor PLTSa, dimana mereka setuju untuk memasang alat pengukur kadar dioksin yang dapat mengukur kadar dioksin tersebut secara ’real–time’ saat proses insinerasi sedang dilakukan. Kebutuhan kota bandung akan keberadaan PLTSa dilatarbelakangi beberapa faktor. Diantaranya, seiring meningkatnya taraf hidup masyarakat, volume sampah yang dihasilkan masyarakat pun semakin meningkat, bahkan, saat ini mencapai 2.785 m3/hari.

Kang Dada Mengangkat Potensi Kuliner Tradisional Bandung

Kuliner Sunda menjadi salah satu daya tarik Kota Bandung

Kuliner Sunda menjadi salah satu daya tarik Kota Bandung

Kekayaan kuliner Kota Bandung sangatlah berlimpah. Berbagai jenis makanan dan minuman tradisional pun menjadi andalan. Beberapa tahun ini ketenaran Bandung sebagai surga kuliner tradisional Jawa Barat semakin melambung. Tampaknya kuliner tradisional bisa menjadi salah satu potensi bernilai tinggi bagi Kota Bandung. Potensi inilah yang menyedot perhatian wisatawan domestik dan mancanegara untuk bertandang ke ‘dapur’ Kota Bandung tanpa henti.

Bajigur, warisan kuliner Sunda

Bajigur, warisan kuliner Sunda

Tentunya semua ini tak lepas dari dukungan Walikota Bandung saat ini, Dada Rosada yang menjunjung tinggi kelestarian kuliner tradisional di Kota Bandung. dapat dilihat, belakangan ini banyak sekali event-event kuliner tradisional yang digelar untuk menciptakan citra bahwa Bandung merupakan sentra kuliner tradisional. Belum lagi pendirian Bajigur Centre dan kawasan kuliner Burangrang yang menampung puluhan PKL penjaja jajanan tradisional. Pagelaran-pagelaran seni budaya juga kini sering dipertunjukkan di kafe-kafe penyedia kuliner tradisional.

Selain melestarikan seni dan budaya kota, potensi kuliner Bandung berperan besar untuk pengembangan pariwisata. Tak heran, Kang Dada terus mendorong promosi kuliner tradisional dalam dan luar Kota Bandung. Kang Dada pun mendorong peran pengusaha dalam membantu dan mengembangkan seni dan budaya daerah sebagai bagian dari corporate sosial rensposibility. Bahkan beliau mencanangkan program Bandung Kota Seni 2008, untuk mendorong kecintaan warga Kota Bandung terhadap budayanya sendiri.

“Kebebasan itu berasal dari manusia, tidak dari undang-undang atau institusi.” -Clarence Darrow

Kebebasan memang berasal dari manusia, bukan dari institusi manapun atupun undang-undang manapun, tetapi kebebasan juga memiliki harga. Kebebasan sebaiknya disertai dengan tanggung jawab, itulah kebebasan yang sebenarnya. Dan hanya akal budi yang sudah terpupuk dengan baiklah yang bisa memberikan tanggung jawab pada kebebasan yang hakiki tersebut. Pendidikanlah yang bisa menjawab tantangan tersebut. Lewat pendidikan kita bisa memperbaiki mentalitas sekaligus pola pikir generasi muda untuk masa depan bangsa yang lebih cerah. Kang Dada membaca hal tersebut, walau perlahan tapi pasti, pendidikan gratis adalah solusinya! Konsepnya, biaya pendidikan sekolah gratis difasilitasi oleh APBN, APBD Provinsi, dan APBD pemerintah Kota Bandung, dengan mempertimbangkan potensi sekolah, potensi siswa, jumlah siswa, lokasi daerah dan masyarakat sekitar. Hingga saat ini sudah terdapat 325 sekolah yang menyediakan fasilitas sekolah gratis tersebut. Kang Dada sudah membentuk program beasiswa bagi siswa tidak mampu sejak tahun 2004. Berhasil membantu 12.000 siswa dari berbagai jenjang pendidikan dan siswa paket A/B/C pada tahun 2004 dan angka terus bertambah hingga kini sudah ada 67.086 siswa yang terbantu.

Jika kita melayani dengan penyerahan penuh (bhakti), kita selamanya terpuaskan, dan merasa terpenuhi. Kita tidak akan berpikir untuk meminta apapun, karena kita merasa bahwa kita memiliki segala sesuatu dalam kelimpahan.”

-pepatah lama cina

Kang Dada Pilihan Rakyat Bandung

Wah, ternyata memang Kang Dada pilihan masyarakat Bandung! Ini buktinya..

Di polling yang digelar oleh koran Tribun Jabar, Kang Dada dan Kang Ayi menempati tempat pertama, disusul dengan pasangan Trendi (24/07)..

Konon katanya, sewaktu pasangan Hade belum terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar pun, hanya polling tribunjabar.co.id yang hasilnya menunjukkan Hade di peringkat pertama…

Polling Pilwakot Bandung 2008 tribunjabar.co.id (24/07)

Polling Pilwakot Bandung 2008 tribunjabar.co.id (24/07)

Semoga, kejadiannya bakal sama untuk Kang Dada ya..

Ayo, terus dukung Kang Dada di polling ini!

Bandung 2008-2013 : Seluruh warga minimal lulus SMU

Kota Bandung memperoleh Piagam Penghargaan Widyakrama Tahun 2006 dari Presiden RI atas prestasinya dalam menyukseskan Wajib Belajar (Wajar) Diknas 9 Tahun. Sebelumnya Kang Dada telah memperoleh piagam penghargaan dari Pemerintah Jabar atas prestasi serupa (2004-2005). Piagam ini menjadi bukti keseriusan Kang Dada dalam menangani pendidikan di Kota Bandung. Kang Dada menetapkan Wajar Diknas 9 tahun di Kota Bandung, yang berarti siswa dianjurkan bersekolah hingga tingkat SMP.

Generasi muda Bandung harus lebih cerdas

Generasi muda Bandung harus lebih cerdas

Tahun ini, Kang Dada menargetkan seluruh pelajar Bandung dapat minimal lulus SMU. Sekolah gratis, beasiswa dan bantuan operasional diharapkan mampu mendukung terwujudnya target ini. Tak ketinggalan pula, partisipasi aktif masyarakat dan kalangan pendidikan juga akan turut menyukseskan program-program pendidikan ini.

Di masa depan, diharapkan masyarakat Bandung adalah masyarakat yang Cerdas, Sehat Makmur, Hijau, berjiwa Seni, Berprestasi dan Agamis, dan lulus program Wajib Belajar 9 tahun ini adalah salah satu cara membangun Bandung yang dicita-citakan kita semua.. :)

Mohon dukungannya dalam mewujudkannya..