Sekian tahun sudah rencana Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dilontarkan oleh Pemerintah Kota Bandung, namun realisasinya belum juga nyata di Kota Bandung. Berkat campur tangan oknum-oknum tak bertanggungjawab yang gemar menghasut, sebagian masyarakat Bandung pun menjadi resah dengan rencana pembangunan ini. Padahal, sebetulnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena teknologi ini telah teruji di China dan Singapura (negara tempat dilakukannya studi banding, sebenarnya banyak negara maju di Eropa yang juga memiliki instalasi PLTSa yang dikenal dengan nama WTE atau ‘waste-to-energy’). Bahkan Bali telah mendahului Bandung dengan membangun prmbangkit listrik dengan teknologi yang serupa.
Kota Bandung membuang 5000 m3 sampah per harinya.Dari sekian banyak, hanya 2000 m3 saja yang dapat terangkut ke TPA. Bagaimana dengan 3000 m3 yang lainnya? Inilah sumber permasalahan sampah di Kota Bandung, karena kapasitas TPA yang terbatas, sehingga lebih dari separuh volume sampah Kota Bandung tiap harinya diserahkan nasibnya kepada masyarakat. Mungkin hanya sebagian kecil dari sampah ini yang didaur ulang oleh masyarakat yang sadar, tetapi justru banyak sampah yang dibuang ke sungai, dan dibakar, sehingga turut menyumbang polusi udara.
Permasalahan volume sampah Kota Bandung inilah yang berusaha diatasi dengan pendirian PLTSa. Dengan PLTSa, sampah dikurangi volumenya dengan cara insinerasi (pembakaran), pembakaran ini memiliki efisiensi tinggi, dan panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dikonversi menjadi bentuk energi listrik. Akan halnya polusi udara yang ditakutkan oleh sebagian masyarakat Bandung, sebenarnya berlebihan, karena asap pembakaran tidak serta-merta dilepas ke udara, melainkan emisinya terkontrol, sehingga emisi yang dibuang melalui cerobong adalah emisi ramah lingkungan. Selain itu, untuk mengurangi polusi akibat emisi tersebut, akan dibuat sebuah area di sekitar PLTSa yang disebut dengan ‘Green belt’ atau kawasan hijau. Di kawasan hijau seluas 600 m2, ditanam lebih dari 100 pohon tanjung yang akan mengurangi polusi udara.
Segala aspek PLTSa sesungguhnya telah direncanakan secara matang melalui kajian secara ilmiah. Maka sebenarnya tidak ada alasan kuat untuk menolak PLTSa sebagai solusi permasalahan volume sampah di Kota Bandung, kecuali apabila terdapat kepentingan politik untuk mencegah Bandung berkembang menjadi lebih baik. Waspdalah..
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Ditandai: bandung, PLTSa

